19 Jan 2026
Saya suka buku, tapi malas baca buku. Seringkali saya menyukai judul judul buku, desain sampul, dan membayangkan apa yang dibahas. Tapi ketika mulai mencoba membaca, seringkali berhenti setelah beberapa halaman bahkan paragraf.
Ada momen ketika saya bisa hanyut dalam sebuah bacaan, tapi lebih seribg tersesat dalam kata-kata. Karena seringkali ekspektasi saya ketika ingin membaca terlalu tinggi. Sehingga ketika paragraf menjadi terlalu bertele tele saya menjadi bosan.
Saya mengerti bahwa membaca sebuah buku perlu sebuah tujuan, sehingga motivasi membaca menjadi lebih jelas. Tapi saya sendiri mengalaminya bahwa itu hanyalah teori.

Beberapa tahun lalu saya mencoba berlangganan scribd, dimana buku bisa kita baca sepuasnya. Hanya dengan membayar kurang dari 100ribu Rupiah per bulan, sangat berguna ketimbang membeli buku digital yang satu ny saja sudah ratusan ribu. Kemudian yang menjadi tantangan adalah waktu membaca, susahnya bukan main untuk disiplin. Akbirnya saya putuskan berlangganan jika saya butuh.
Kemudian saya mencoba headway app, aplikasi yang menyediakan rangkuman buku. Harganya sedikit lebih murah, dan bisa menyelesaikan masalah keterbatasan waktu. Buku dirangkum dengan baik, tapi saya mulai merasa rangkuman demi rangkuman berlalu tanpa ada bekas yang bisa menempel dalam ingatan mengenai sebuah buku yang dibaca.
Hingga akhirnya beberapa bulan terakhir di 2025 ketika saya mulai berlangganan chatGPT, saya mencoba meminta dibuatkan summary sebuah buku. Hasilnya mirip aplikasi rangkuman buku, hebatnya kali ini bisa interaktif. Terjadi tanya jawab, diskusi, sehingga memahami isi buku menjadi lebih bermakna.
Apa kesimpulannya? Harus diakui dengan mengetahui buku buku yang populer akan membuat kita setidaknya terlihat lebih berwawasan. Bisa mendapatkan ilmu dan memanfaatkannya merupakan sebuah anugrah. Tantangannya apakah kita perku membaca buku secara utuh, atau dengan pendekatan chatGPT? Ini tantangan para penulis dan penerbit buku non fiksi, karena intisari sebuah buku bisa diperoleh dengan mudah melalui GPT. Sementara untuk fiksi, novel, rasanya pembaca masih menikmati membaca secara utuh supaya bisa hanyut dalam alur cerita dan emosi.
Artinya tantangan buku non fiksi harus mampu memberikan pengalaman alur cerita yang menarik, supaya pembaca juga bisa ikut hanyut.
Saya sendiri akan tetap menyukai buku, tapi memang sulit untuk rajin membaca. Sehingga memanfaatkan GPT sebagai solusi yang tepat untuk saya.
Leave a comment